BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Frederick Perls (1893-1970)
adalah pendiri pendekatan konseling Gestalt. Frederick dilahirkan di Berlin dan
berasal dari keluarga Yahudi.
Walaupun di masa mudanya
Frederick memiliki masalah dengan pendidikan, tetapi dia dapat menyelesaikan
sarjananya, dan pada tahun 1916 dia bergabung dengan angkatan darat Jerman pada
PD I.
Walaupun pada awalnya
Frederick merupakan pengikut aliran psikoanalisa, tetapi dalam perkembangannya,
teori Gestal banyak bertentangan dengan teori Sigmund Freud. Jika Psikoanalisa
memandang manusia secara mekanistik, maka Frederick memandang manusia secara
holistic. Freud memandang manusia selalu dikuasai oleh konflik (intrapsychic
conflict) awal masa anak-anak yang ditekan, maka Frederick memandang manusia
pada situasi saat ini. Sehingga Gestalt lebih menekankan pada pada apa yang
dialami oleh konseli saat ini daripada hal-hal yang pernah dialamai oleh
konseli, dengan kata lain, Gestalt lebih memusatkan pada bagaimana konseli
berperilaku, berpikiran dan merasakan pada situasi saat ini (here and now)
sebagai usaha untuk memahami diri daripada mengapa konseli berperilaku seperti
itu.
Proses perkembangan teori
Gestalt tidak bisa dilepaskan dari sosok Laura (Lore) Posner (1905-1990). Dia
adalah isteri Frederick Perls yang secara signifikan turut mengembangkan teori
Gestalt. Laura dilahirkan di Jerman. Awal mulanya dia adalah seorang pianis
sampai dengan umur 18 tahun. Pada awalnya, Laura juga seorang pengikut aliran
Psikoanalisa, yang kemudian pindah untuk mendalami teori-teori Gestalt. Pada
tahun 1926, Laura dan Perls secara aktif melakukan kolaborasi untuk
mengembangkan teori Gestalt, hingga pada tahun 1930 akhirnya mereka menikah.
Pada tahun 1952, mereka mendirikan New York Institute for Gestalt Therapy.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana konsep dasar teori konseling menurut Gestalt?
2.
Apa hakekat manusia menurut Gestalt?
3.
Bagaimana perilaku bermasalah dipandang dari teori
Gestalt?
4.
Apa tujan dari konseling Gestalt?
5.
Bagaimana hubungan konseling dalam teori Gestalt?
6.
Bagaimana tahapan konseling Gestalt?
7.
Bagaimana teknik konseling Gestalt?
8.
Bagaimana teori konseling Gestalt dipandang dari
prespektif Islam?
C. TUJUAN
1.
Mempelajari Bagaimana teori Gestalt memandang hakikat
manusia dan segala permasalahan yang dialaminya.
2.
Mampu mengaplikasikan teori Gestalt dalam pelaksanaan
Bimbingan dan Konseling.
3.
Mempelajari teori konseling Gestalt bila dipandang dari
prespektif islam.
D. MANFAAT
1.
Mengetahui bagaimana teori konseling Gestalt memandang
hakekat manusia, dan segala permasalahan yang dihadapinya.
2.
Mengetahui tahapan dan teknik dalam konseling Gestalt.
3.
Mengetahui teori konseling Gestalt bila dipandang dari
prespektif Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR
Dalam
terapi Gestalt, pengalaman menyeluruh (pikiran, perasaan dan sensasi tubuh)
dari individu menjadi perhatian yang sangat penting. Pendekatannya lebih
dipusatkan pada kondisi di sini dan saat ini (here and now) yaitu menyadari apa
yang terjadi dari waktu ke waktu (moment by moment).
Holism
keseluruhan merupakan teori Gestalt yang utama. Gestalt tidak memandang manusia
bagian perbagian. Manusia tidak bisa hanya diketahui dari komponen fisiknya
saja, atau dari komponen psikisnya saja. Tetapi mengenal manusia harus
dilakukan secara komprehensif, yaitu dari sisi psikis dan fisiknya. Selain itu,
mengenal manusia tidak didasarkan pada diri individu itu saja, tetapi
terintegrasi dengan lingkungan di mana individu tersebut berada. Perls (dalam
Brownell, 2003) menyatakan bahwa holism dideskripsikan sebagai suatu
keseluruhan bentuk kesadaran manusia yang meliputi respon motorik, respon
perasaan, respon pikiran yang dimiliki oleh organisme.
Field
Theory adalah teori Gestalt yang menyatakan bahwa mengenal manusia harus
dilihat pula lingkungan di mana manusia itu berada. Dengan demikian, konselor
akan memberikan perhatian lebih kepada konseli terhadap interaksinya dengan
lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat, tempat kerja). Dengan kata lain,
bahwa field theory merupakan suatu metode untuk mendeskripsikan keseluruhan
medan (field) yang dialami oleh konseli. pada saat ini. Hal ini lebih daripada
hanya sekedar menganalisis kejadian-kejadian yang telah terjadi dalam
hubungannya dengan lingkungan (Yontef, 1993).
The Figure-Formation Process dideskripsikan sebagai usaha individu untuk melakukan pengorganisasian atau memanipulasi lingkungannya dari waktu ke waktu.
The Figure-Formation Process dideskripsikan sebagai usaha individu untuk melakukan pengorganisasian atau memanipulasi lingkungannya dari waktu ke waktu.
Organismic
Self-Regulation merupakan sebuah proses dimana seseorang berusaha dengan keras
untuk menjaga keseimbangan yang secara terus menerus diganggu oleh
kebutuhan-kebutuhan. Jika usaha untuk menjaga keseimbangan ini berjalan dengan
baik maka mereka akann kembali ke dalam posisi utuh. Pada dasarnya manusia
memiliki kekuatan yang secara alami akan mengarahkan mereka untuk melakukan
proses penyeimbangan dalam dirinya. Proses penyeimbangan ini berbentuk proses
asimilasi, mengakomodasi perubahan atau menolak pengaruh-pengaruh dari luar.
Masalah seringkali muncul saat seseorang berusaha untuk melakukan pemutusan kontak
(interruption contacts).
Saat Ini (The Now)
Saat Ini (The Now)
Dalam
pendekatan Gestalt, situasi saat ini merupakan hal yang sangat penting (the
most significant tense). Sehingga dalam proses konseling, konseli akan diajak
untuk belajar mengapresiasi dan mengalami secara penuh keadaan saat ini.
Gestalt tidak akan mencari tahu apa yang telah terjadi di masa lalu, tetapi
lebih pada mendorong konseli untuk membicarakan saat ini. Pemusatan pada masa
lalu akan menjadi jalan bagi konseli untuk menghindari masalahnya. Joel dan
Edwin (1992) menyatakan ”What does this mean, "present centered"? In
essence, it means that what is important is what is actual, not what is
potential or what is past, but what is here, now”.
Untuk membantu
konseli memahami keadaan saat ini, maka konselor dapat membantu dengan
memberikan kata tanya “Apa” dan “Bagaimana”, dengan demikian, kata tanya
“Mengapa” adalah kata tanya yang sangat jarang dipergunakan (Zimberoff dan
Hartman, 2003). Bahkan, seringkali konselor memotong pembicaraan konseli, jika
konseli mulai berkutat dengan masa lalunya. Konselor akan memotong pembicaraan
konseli dengan pernyataan seperti, ”Apa yang kamu rasakan pada saat kakimu
bergoyang saat bicara?’ atau ”Dapatkah kamu merasakan tekanan suaramu? Tidakkah
kamu merasa ketakutan?” Usaha konselor ini adalah untuk mengembalikan kesadaran
konseli saat ini.
Konselor
Gestalt meyakini bahwa pengalaman masa lalu, seringkali mempengaruhi keadaan
konseli saat ini, terlebih jika pengalaman masa lalu memiliki hubungan yang
signifikan dengan kejadian atau masalah yang dimiliki oleh konseli. Di lain
pihak, karena (mungkin) ketakutannya untuk menyelesaikan masalah, maka konseli
cenderun untuk secara terus menerus membicarakan masa lalunya.
Untuk
mengatasi masalah ini, maka konselor dapat mengajak konseli untuk kembali ke
saat ini dengan cara “membawa fantasinya ke saat ini” dan mencoba untuk
mengajak konseli untuk melepaskan keinginannya. Sebagai contoh, seorang anak
memiliki trauma dengan perilaku ayahnya. Konselor tidak mengajak konseli untuk
membicarakan apa yang telah terjadi, tetapi lebih mengajak konseli untuk
merasakan saat ini dan berorientasi pada pada apa yang ingin dilakukan (semisal,
berbicara dengan ayahnya).
Urusan
Yang Belum Selesai ( Unfinised Bussines)
Individu
seringkali mengalami masalah dengan orang lain di masa lalu. Menurut Gestalt,
masalah masa lalu yang belum terselesaikan atau terpecahkan disebut dengan
Unfinished Bussiness yang dapat dimanifestasikan dengan munculnya kemarahan
(resentment), amukan (rage), kebencian (hatred), rasa sakit (pain), cemas
(anxiety), duka cita (grief), rasa bersalah (guild) dan perilaku menunda
(abandonment).
Polster (dalam
Corey, 2005) menyatakan bahwa beberapa bentuk perilaku akibat unfinished
bussines adalah seseorang akan asyik dengan dirinya sendiri, memaksa orang lain
untuk menuruti kehendaknya, bentuk-bentuk perilaku yang menempatkan dirinya
sebagai orang kalah, bahkan seringkali muncul simptom-simptom penyakit fisik.
Sebagai contoh ada
seorang mahasiswa yang menganggap bahwa semua perempuan itu tidak baik.
Perilaku mahasiswa ini cenderung untuk menjauhi perempuan. Diketahui bahwa masa
lalu mahasiswa ini mengalami perlakuan yang buruk dari ibunya sewaktu berusia
sekolah dasar (unfinished bussines). Pendekatan Gestalt tidak berorientasi pada
masa lalu atau berusaha untuk mengorek perilaku orang tua yang menyebabkan dia
berperilaku menjauhi perempuan. Sebab, jika itu dilakukan, maka mahasiswa ini
akan berusaha untuk meraih masa lalunya yang hilang, dan dia akan berpikir
menjadi anak kecil. Ini adalah proses yang tidak produktif. Konselor Gestalt
akan berusaha untuk membantu mahasiswa ini merasakan apa yang terjadi saat ini.
Konselor akan menfasilitasi mahasiswa ini untuk menunjukkan situasi yang
terjadi saat ini. Mahasiswa dibantu untuk menyadari bahwa perilakunya tidak
produktif dan kemudian mencari perilaku-perilaku yang lebih produktif.
Contact
& Resisstance to Contact
Hal
terpenting dalam kehidupan manusia adalah malakukan kontak atau bertemu dengan
orang lain di sekitar. Kirchner (2008) menyatakan bahwa setiap individu
memiliki kemampuan untuk melakukan kontak secara efektif dengan orang lain,
dengan kemampuan itu, maka individu akan dapat bertahan hidup dan tumbuh
semakin matang. Semua kontak yang dilakukan oleh individu memiliki keunikan
sendiri-sendiri yang berujung pada bagaimana individu dapat menyesuaikan
dirinya dengan lingkungan.
Perls
menyatakan bahwa proses kontak dilakukan dengan cara melihat, mendengar,
membau, meraba dan pergerakan. Lebih lanjut, Gestalt Institute of Cleveland
(dalam Krichner, 2000) menunjukkan bahwa proses kontak terjadi karena tujuh
tingkatan yaitu (a) sensation, (b) awareness, (c) mobilization of energy, (d)
action, (e) contact, (f) resolution and closure, dan (7) withdrawal.
Proses
kontak individu dengan individu lain seringkali mengalami masalah. Masalah ini
seringkali muncul karena konseli cenderung untuk menghindari kontak dengan
keadaan saat ini dan orang lain. Krichner (2000) menyatakan ada empat hal yang
menjadi masalah konseli yaitu confluence, introjection, projection, dan
retroflection.
Energy
& Blocks to Energy
Pendekatan
Gestalt memperhatikan energy yang dimiliki oleh individu. Dimana teori ini
berkeyakinan bahwa untuk bisa menyelesaikan masalahnya, maka seseorang akan
mengeluarkan energy. Penutupan energy ini akan tampak pada keadaan fisik
seseorang. Seseorang yang tidak bisa mengeluarkan energinya, seringkali
ditampakkan dengan perilaku non verbal seperti, bernapas pendek-pendek, tidak
focus dengan lawan bicara, berbicara dengan suara tertahan, perhatian yang
minimal terhadap sebuah obyek, duduk dengan kaki tertutup, posisi duduk yang cenderung
menjauhi lawan bicara dan lain sebagainya. Sebagai contoh, seseorang yang pada
saat ini ingin marah, tetapi tertahan, maka tubuhnya akan mereaksi penahaman
marah (sebagai upaya pelepasan energy) dengan bentuk-bentuk seperti napas
tersengal-sengal.
Dalam
proses konseling, konselor berusaha untuk membantu kondisi pelepasan energy
yang dimiliki oleh konseli. Pada awalnya konseli diajak untuk mengenal
perasaannya saat ini, dan kemudian membantu untuk melepaskan energi yang
tertahan tersebut.
B.
HAKEKAT
MANUSIA MENURUT GESTALT
Pendekatan
konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif
sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan
penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan
sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Manusia
aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan
tingkah lakunya
Setiap
individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki
dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju
terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi.
Jadi
hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah
1. Tidak dapat dipahami, kecuali dalam
keseluruhan konteksnya,
2. Merupakan bagian dari lingkungannya
dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu,
3. Aktor bukan reaktor,
4. Berpotensi untuk menyadari
sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikirannya,
5. Dapat memilih secara sadar dan
bertanggung jawab,
6. Mampu mengatur dan mengarahkan
hidupnya secara efektif.
Dalam
hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia, pendekatan ini memandang bahwa
tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Masa lalu telah pergi dan masa depan
belum dijalani, oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa
sekarang.
Dalam
pendekatan ini, kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang
dan kemudian”. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu
terpaku pada masa depan, maka mereka mengalami kecemasan.
Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep
tentang urusan yang tak selesai (unfinished business), yakni mencakup
perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian,
sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan. Meskipun tidak
bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan-ingatan
dan fantasi-fantasi tertentu. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran,
perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada
kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif
dengan dirinya sendiri dan orang lain. Urusan yang tak selesai itu akan
bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak
terungkapkan itu.
C.
PERILAKU BERMASALAH MENURUT GESTALT
Individu
bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan
“under dog”. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam.
Under dog adalah keadaan defensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif,
ingin dimaklumi.
Perkembangan
yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus
(self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).
1. Terjadi pertentangan antara
keberadaan sosial dan biologis
2. Ketidakmampuan individu
mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
3. Mengalami gap/kesenjangan sekarang
dan yang akan datang
4. Melarikan diri dari kenyataan yang
harus dihadapi
Spektrum tingkah laku bermasalah
pada individu meliputi :
1.
Kepribadian kaku (rigid)
2.
Tidak mau bebas-bertanggung jawab, ingin tetap tergantung
3.
Menolak berhubungan dengan lingkungan
4.
Memeliharan unfinished bussiness
5.
Menolak kebutuhan diri sendiri
6.
Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih”.
D.
TUJUAN KONSELING
Tujuan
utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai
macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung
makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap
lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak
untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.
Individu yang bermasalah pada umumnya
belum memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan
sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Melalui konseling konselor membantu
klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan
dikembangkan secara optimal.
Secara lebih spesifik tujuan konseling
Gestalt adalah sebagai berikut.
1. Membantu klien agar dapat memperoleh
kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight secara
penuh.
2. Membantu klien menuju pencapaian
integritas kepribadiannya
3. Mengentaskan klien dari kondisinya
yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be
true to himself)
4. Meningkatkan kesadaran individual
agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi
bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat
diatasi dengan baik.
E.
HUBUNGAN PROSES KONSELING GESTALT
Fokus
utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang
serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Oleh karena itu
tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada
pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Dalam hal ini perlu diarahkan
agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Untuk itu klien
bisa diajak untuk memilih dua alternatif, ia akan menolak kenyataan yang ada
pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada
dirinya sekarang.
Konselor
hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak,
keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun memberi
nasihat.
Konselor
sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan
mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri
sendiri. Dalam hal ini, fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan
transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan
kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka
ketersesatan atau kebuntuan klien.
Pada saat klien mengalami gejala kesesatan
dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan
kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh, atau gila, maka tugas konselor adalah
membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya
sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.
F.
TAHAPAN KONSELING
Fase pertama, konselor mengembangkan pertemuan
konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang
diharapkan pada klien. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien
berbeda, karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta
memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.
Fase kedua, konselor berusaha meyakinkan dan
mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai
dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu
:
a. Membangkitkan motivasi klien, dalam
hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau
ketidakpuasannya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya
semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya, sehingga makin tinggi
pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor.
b. Membangkitkan dan mengembangkan
otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran
konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.
Fase ketiga, konselor mendorong klien untuk
mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk
mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi
di sini dan saat ini. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya
kepada konselor.
Melalui fase ini, konselor berusaha
menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang,
dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien.
Fase keempat, setelah klien memperoleh pemahaman
dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor
mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling.
Pada
fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas
kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.
Klien
telah memiliki kepercayaan pada potensinya, menyadari keadaan dirinya pada saat
sekarang, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya,
perasaan-perasaannya, pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya.
Dalam situasi ini klien secara sadar dan
bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor, dan siap
untuk mengembangan potensi dirinya.
G.
TEKNIK KONSELING
Hubungan
personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan
dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu, teknik-teknik yang
dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang
penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh.
Prinsip Kerja Teknik Konseling
Gestalt
a. Penekanan Tanggung Jawab Klien, konselor menekankan bahwa konselor
bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien, konselor
menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya.
b. Orientasi Sekarang dan Di Sini, dalam proses konseling konselor
tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi memfokuskan
keadaan sekarang. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. Masa
lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. Dalam kaitan ini pula
konselor tidak pernah bertanya “mengapa”.
c. Orientasi Eksperiensial, konselor meningkatkan kesadaran
klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya, sehingga dengan demikian
klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti
personal. Klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan; (b)klien
mengambil peran dan tanggung jawab; (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal
positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya
Berikut
ini adalah teknik – teknik konseling dalam teori Gestalt :
1.
Permainan Dialog
Teknik
ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua
kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan
kecenderungan under dog, misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan
kecenderungan anak; (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan
masa bodoh; (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” (d)
kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung; (e) kecenderungan kuat
atau tegar lawan kecenderungan lemah
Melalui
dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien
akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko.
Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik
“kursi kosong”.
2.
Latihan Saya Bertanggung Jawab
Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk
membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada
memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain.
Dalam teknik ini konselor meminta klien
untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan
itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.
Misalnya
:
“Saya merasa jenuh, dan saya
bertanggung jawab atas kejenuhan itu”
“Saya tidak tahu apa yang harus saya
katakan sekarang, dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”.
“Saya malas, dan saya bertanggung
jawab atas kemalasan itu”.
Meskipun
tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan
klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.
3.
Bermain Proyeksi
Proyeksi
artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri
tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri
dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Sering terjadi, perasaan-perasaan
yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya.
Dalam
teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau
melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.
4.
Teknik Pembalikan
Gejala-gejala
dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari
dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien
untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang
dikeluhkannya.
Misalnya
: konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran
“ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan.
5.
Tetap dengan Perasaan
Teknik
dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang
tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong
klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
Kebanyakan
klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari
perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap
mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang
dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam
tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.
Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan
kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan
menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan
keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin
dihindarinya itu.
H.
TEORI KONSELING GESTALT DALAM
PRESPEKTIF ISLAM
Ada beberapa hal keterkaitan antara
teori Gestalt dengan Islam, yaitu sebagai berikut :
1. Penekanan akan betapa pentingnya
hubungan diri seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.
HR. Muslim :
“Setiap orang dilahirkan ibunya
dalam keadaan fitrah, setelah ayah-ibunya lah yang menjadikannya yahudi,
nasrani, atau majusi. Maka jika kedua orang tuanya itu muslim, maka anak itu
akan menjadi seorang muslim”.
2. Menjadi lebih sadar atas apa yang di
indrakan dan dirasakan oleh klien.
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberikan
pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar kamu bersyukur”.
(Q.S An- Nahl : 78)
3. Mengembangkan keterampilan dan
nilai-nilai yang dapat memenuhi kebutuhan klien tanpa mengganggu hak-hak orang
lain.
“Dan carilah pada apa yang telah di anugrahkan
Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan
bagianmu dan kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat
kerusakan”.
(Q.
S. Al-Qashash : 77)
4. Bertanggung jawab atas tindakan yang
mereka lakukan termasuk setiap konsekuensinya.
“Barang siapa berbuat kebaikan sebesar benda
kecilpun maka dia akan melihat balasannya, dan barang siapa yang berbuat
kebusukan sebesar benda terkecil pun, maka dia akan melihat balasannya”.
(Q.
S. Az-Zalzalah : 7-8)
5. Peran sentral dari hubungan yang
tulus dan dialog dalam proses konseling.
“Maka berkat rahmat Allah, Kau (Muhammad)
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu, karena itu
maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah
dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan
tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang
bertawakkal”.
(Q.
S. Ali-Imran : 159)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Terapi
Gestalt adalah suatu terapi eksistensial yang menekankan kesadaran disini dan
sekarang. Fokus utamanya adalah pada apa dan bagaimananya tingkah laku dan pada
peran urusan yang tak selesai dari masa lampau yang menghambat kemampuan
individu untuk bisa berfungsi secara afektif. Konsep-konsep utamanya mencakup
penerimaan tanggung jawab pribadi, hidup pada saat sekarang, pengalaman
langsung merupakan kebalikan dari membicarakan pengalaman-pengalaman secara
abstrak, penghindaran diri, urusan yang tidak selesai, dan penembusan jalan
buntu.
Sasaran
terapeutik utamanya adalah menantang klien untuk beralih dari dukungan
lingkungan kepada dukungan diri. Perluasan kesadaran, yang dipandang kuratif
dan pada dirinya, adalah suatu tujuan dasar. Dengan kesadaran, klien mampu
mendamaikan polaritas-polaritas dan dikotomi-dikotomi yang ada dalam dirinya
dan karena bergerak menuju reintegrasi segenap aspek dari dirinya.
Dalam
pendekatan ini, terapis membantu klien agar mengalami lebih penuh segenap
perasaannya, dan ini memungkinkan klien mampu membuat penafsiran-penafsiran
sendiri. Klien mengenali urusannya yang tak selesai dan menembus
kendala-kendala yang menghambat pertumbuhan dirinya. Klien melakukan hal itu
dengan mengalami kembali situasi-situasi masa lampau seakan-akan berlangsung
sekarang.
B. SARAN
Kami
berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan baru bagi siapapun
pembacanya. Selanjutnya kami ingin berterima kasih kepada dosen pembimbing dan
rekan-rekan yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah sederhana ini.
DAFTAR PUSTAKA
Kirchner, Maria. 2000. Gestalt
Therapy Theory: An Overview. www.newyorkgestalt.org,
diakses tanggal 17 November 2011.
Wikipedia. 2008. Gestalt
Therapy. http://en.wikipedia.org/wiki/Gestalt_ therapy, diakses tanggal 17
November 2011.
Yontef, Gary. 1993. Gestalt
Therapy: An Introduction. www.gjpstore.com, diakses tanggal 18 November 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar